Tuesday, November 20, 2012

Bakar buku oleh makhluk tak ber otak


Bakar buku“ Whenever they burn books, they will also, in the end, burn human beings “
(Heinrich Heine).
Tidak ada yang lebih menyesakan ketika melihat pembakaran buku buku “ 5 Kota paling berpengaruh di dunia “ yang dilakukan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, sebagai bagian dari Kelompok Keluarga Kompas Gramedia. Entah apa yang dibenak para pimpinan perusahaan, wartawan atau penulis penulis yang bernaung dalam perusahaan penerbitan terbesar di negeri ini, ketika melihat buku buku di giring ke halaman dan dibakar.
Walau judicial review bisa dilakukan. Tapi dengan mudahnya saya menebak, bahwa perusahaan ini – yang kerap direpresentasikan sebagai simbol bisnis kelompok Katolik – memang mencari jalan aman, untuk tunduk dari tekanan entah itu ormas agama atau lembaga swadaya urusan agama Islam bentukan Pemerintah.
Saya tak berani membayangkan reaksi Pak Dani ( 47 th ) yang mengelola ‘ Bank Kampung Ilmu “ di Surabaya, kalau mendengar aksi ini. Bank yang mengkhususkan simpan pinjam untuk 84 orang anggota, pemilik kios toko buku di kawasan Kampung Ilmu. Bagaimana mereka dengan uang pinjaman, memburu buku buku, baik buku bekas atau baru, termasuk majalah bekas. Komoditi buku tersebut dijual dengan harga yang sangat murah sehingga merupakan surga ilmu pengetahuan bagi masyarakat Surabaya.
Mata mereka berbinar binar jika datang pasokan buku buku yang dibawa tukang becak atau pedagang eceran. Mereka akan berbisik merintih ketika melihat jauh di ibu kota sana, ribuan buku dibakar.
Sebagai pemilik buku buku tersebut, tentu saja PT Gramedia Pustaka Utama berhak menarik dari peredaran. Apapun alasannya. Tapi membakar di depan khalayak ramai menjadi sebuah tontonan barbar ? Tidak cukupkah dengan menariknya dari peredaran.
Kalau sudah begini, saya membayangkan Gramedia, memilih publikasi murahan atas sikapnya untuk tunduk kepada tekanan.

Awalnya pemusnahan ilmu pengetahuan dengan aksi pembakaran buku dan penghancuran perpustakaan, umumnya dikenal istilah biblioclasm atau juga bibliocaust. Contoh ini merujuk pada aksi perusakan perpustakaan Alexandria, pembakaran buku jaman Nazi, penghancuran perpustakaan Sarajevo, dan lainnya. Pemusnahan buku dipandang sebagai suatu bentuk penghancuran kebudayaan.
Umumnya dalam penaklukan sebuah wilayah, akan dilakukan penghancuran dan perampasan terhadap barang barang perpustakaan untuk menunjukan simbol kekuasaan sang penakluk. Juga upaya memutuskan mata rantai dengan kebudayaan setempat sekaligus memusnahkan catatan tulisan tentang kejayaan setempat.
Sampai sekarang Eropa masih menyimpan rasa bersalah atas perlakuannya memusnahkan perpustakaan dan manuskrip kebudayaan kebudayaan jajahannya.
GalileoSejarah Gereja Katolik sudah melakukan pembakaran atas buku buku sastra , ilmu pengetahuan yang dianggap bertentangan dengan iman Kristiani. Penghancuran manuskrip manuskrip Indian Maya oleh Gereja setelah pendudukan Spanyol.
Novel terkenal “ The Name of the Rose “ karya Umberto Eco juga mengangkat soal larangan membaca buku karangan Aristoteles di lingkungan biara dan Gereja Katolik pada masa abad ke-14.
Umberto Eco menulis kisah ini untuk menunjukan betapa berkuasanya para pemuka agama sehingga bisa bertindak sebagai polisi dan hakim sekaligus, sehingga interpretasi individual dari Aristoteles diharamkan untuk dibaca. Bagi yang melanggar akan mengalami kematian yang mengenaskan.
Urusan bakar membakar bukan monopoli Gereja Katolik saat itu, tapi juga kaum Protestan. Ketika Gereja Katolik memberikan batas waktu pada tanggal 10 Desember 1520, kepada Martin Lutheruntuk menarik beberapa dalil pemikirannya. Di Hari yang sama Martin Luther membakar salinan surat perintah Exsurge Domine – bulla – ini dan berjilid-jilid Hukum Kanon Gereja Katolik dekat Gerbang Elster di Wittenberg.
Saat ia membakar salinan bulla tersebut, Martin Luther berkata, “Karena engkau telah mengutuk kebenaran Tuhan, hari ini Tuhan mengutuk dirimu. Api akan memakanmu!”. Suatu peringatan dari ayat Kitab Mazmur.
Sedemikian takutnya akan sebuah tafsir buku ? Kita tidak akan bisa benar benar memberangus sebuah tafsir ide, pemikiran, tulisan. Sampai kapanpun, karena akan terus ada baik secara terbuka atau diam diam dibalik kamar.
Keimanan seseorang tidak akan luntur karena sebuah bacaan. Kalau keimanan itu luntur, yang bobrok bukan bacaan itu, tapi orangnya sendiri.
Lepas benar salahnya isi buku “ 5 Kota paling berpengaruh di Dunia “, Semestinya penerbit bisa bersikap lebih arif daripada sengaja mempertontonkan ‘ upacara pembakaran ‘ seperti yang dilakukan Gereja Gereja Katolik masa silam.
Hati saya trenyuh melihat buku buku dibakar. Saya tidak melihat bentuk pembakaran sebagai pembelaan terhadap Tuhan. Sudah banyak penistaan terhadap agama dan Tuhan saya rasa tidak kehilangan mukanya karena urusan urusan manusia itu.
Tentu saja KKG akan mengingat 46 tahun silam ketika Bung Karno memberi nama Kompas. Bung Karno tersenyum dan berkata kepada Frans Seda, Ketua Partai Katolik. “Saya memberi nama yang lebih bagus. Kompas! Tahu toh apa artinya Kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan dan hutan rimba “.
Kalau sudah begini. Tentu saja harapan Bung Karno menjadi sia sia.
sumber: http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1713#more-1713

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes